Rincian Biaya Kuliah Tunggal (UKT) per semester terpampang di papan pengumuman di lobi Fakultas Teknik sebuah universitas negeri ternama di Jawa. Angka-angka tersebut tampak wajar di atas kertas. Namun, para mahasiswa yang berdiri di depannya menyadari bahwa jumlah yang tertera hanyalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya mereka keluarkan setiap bulan. Biaya sesungguhnya untuk menempuh pendidikan teknik di Indonesia jauh lebih kompleks daripada angka biaya kuliah tunggal yang tertera pada slip pembayaran.
Untuk memahami hal ini dengan benar, perlu dibedakan antara biaya aktual yang dikeluarkan negara untuk mendidik seorang lulusan teknik dan biaya yang dibayarkan oleh mahasiswa. Hanya sebagian kecil dari total biaya pendidikan per mahasiswa di universitas negeri yang ditutupi oleh biaya kuliah; selisihnya ditutupi oleh subsidi pemerintah, yang jumlahnya signifikan.
Di antara semua disiplin ilmu, program teknik termasuk yang paling mahal untuk dijalankan karena kebutuhan akan laboratorium, tenaga pengajar khusus, dan peralatan presisi. Fakultas teknik di sebuah universitas negeri bergengsi mungkin memiliki biaya operasional tahunan per mahasiswa yang dua hingga tiga kali lipat lebih besar daripada biaya di departemen ilmu sosial dan humaniora.

Angka-angka tersebut juga sama rumitnya dari sudut pandang mahasiswa. Sebagai contoh, program Sarjana Teknik Sipil di universitas swasta seperti Universitas Sangga Buana Bandung biayanya sekitar Rp 5,9 juta per semester ditambah biaya di muka sekitar Rp 2,75 juta. Bahkan sebelum memperhitungkan biaya-biaya lain, biaya kuliah dasar saja sudah mendekati Rp 50 juta jika dikalikan dengan delapan semester.
Tergantung pada universitas tertentu dan tingkat pendapatan orang tua, biaya kuliah teknik kelas menengah di universitas negeri dapat berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 9 juta per semester. Namun, angka tersebut hanya mencakup biaya kuliah; biaya tempat tinggal, makanan, transportasi, buku, dan pengeluaran lain yang tidak selalu ditanggung oleh universitas tidak termasuk di dalamnya.
Total biaya untuk program sarjana teknik empat tahun di kota besar dapat berkisar antara 150 juta hingga 250 juta rupiah jika dihitung secara realistis dengan memperhitungkan biaya kuliah, biaya hidup rata-rata sebesar 1,5 juta hingga 2,5 juta rupiah per bulan di kota tempat universitas berada, serta kebutuhan perangkat keras seperti laptop dan perangkat lunak teknik.
Dan itu mengasumsikan jalur yang cukup ekonomis. Angka tersebut bahkan bisa lebih tinggi bagi mahasiswa yang masa studinya berlanjut hingga semester kesembilan atau kesepuluh. Menarik untuk dicatat bahwa universitas hampir tidak pernah secara terbuka membagikan perkiraan total biaya ini kepada calon mahasiswa dan orang tua mereka.
Investasi negara dalam infrastruktur teknik merupakan aspek lain yang jarang dibahas. Anggaran universitas, yang sebagian besar bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), digunakan untuk membiayai gedung laboratorium, peralatan pengujian material, mesin CNC, alat simulasi, dan lisensi perangkat lunak. Di sinilah apa yang bisa disebut sebagai “subsidi tersembunyi” terjadi; mahasiswa teknik di universitas negeri sebenarnya menikmati fasilitas yang nilainya jauh melebihi biaya kuliah yang mereka bayarkan. Seberapa penting nilai ini? Angka-angka resmi sulit diperoleh, yang merupakan masalah tersendiri.
Membandingkan angka-angka ini dengan konteks yang lebih luas tak terelakkan membuat seseorang merasa tidak nyaman. Di satu sisi, biaya untuk menghasilkan seorang lulusan teknik di Indonesia masih jauh lebih murah dibandingkan di negara-negara maju; biaya kuliah di Universitas Johns Hopkins di AS, misalnya, bisa mencapai Rp 1,5 miliar per tahun. Namun, kondisi keuangan keluarga rata-rata di Indonesia membuat biaya kuliah di universitas negeri yang “terjangkau” sekalipun menjadi beban yang nyata, terutama ketika orang tua juga harus membiayai kebutuhan hidup anak mereka selama menempuh studi jauh dari rumah.
Diperlukan keterbukaan yang lebih besar mengenai biaya keseluruhan pendidikan teknik, baik dari pemerintah maupun universitas. Tujuannya adalah untuk membantu keluarga membuat perencanaan yang lebih baik, bukan untuk menghalangi calon mahasiswa. Berinvestasi pada lulusan teknik merupakan strategi jangka panjang yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian negara. Namun, perencanaan yang matang dimulai dengan angka-angka yang jujur—bukan sekadar angka-angka yang tercetak rapi di brosur penerimaan mahasiswa.