Sebuah tim kecil berangkat pada pukul empat pagi, tepat sebelum fajar menyingsing di Ternate. Mereka membawa pakaian, beras, dan kebutuhan lainnya di dalam karung. Tujuan mereka bukanlah kota, pasar, ataupun jalan raya utama. Mereka menempuh perjalanan panjang, lambat, dan penuh ketidakpastian jauh ke dalam hutan.
Perjalanan menuju pedalaman Halmahera ini bukan sekadar soal jarak. Ada sungai-sungai yang harus diseberangi, jalan setapak sempit yang nyaris tak terlihat di balik semak belukar yang rapat, dan begitu sinyal ponsel menghilang, waktu seolah berubah. Untuk sekadar mencapai titik awal jalur pendakian saja, tim BMH Maluku Utara dan para relawan lokal menghabiskan waktu berjam-jam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Anggota suku Togutil—yang juga dikenal sebagai O’Hongana Manyawa atau “orang-orang yang hidup di hutan”—telah menanti mereka di ujung perjalanan. Mereka adalah bagian dari masyarakat adat Tobelo Dalam, kelompok yang selama berabad-abad memilih hutan Halmahera sebagai rumah mereka. Hutan adalah dunia mereka, bukan karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Atau setidaknya, begitulah keadaannya dahulu.
Sungguh mengharukan mengetahui bahwa sekitar lima puluh orang—mulai dari anak-anak hingga lanjut usia—telah menunggu di “Sekolah Hutan” Desa Woda, Kecamatan Oba, selama dua hari penuh sebelum tim tiba. Dua hari. Mereka tidak beranjak; mereka tidak membubarkan diri. Mereka menunggu dengan kesabaran yang mungkin hanya tumbuh pada diri mereka yang terbiasa dengan keheningan hutan.
Namun, kenyataan yang lebih berat membayangi di luar dinding sekolah hutan yang sederhana itu. Hutan Halmahera sedang berubah dengan cepat. Industri nikel mulai merambah wilayah yang sebelumnya menjadi ruang hidup eksklusif bagi suku O’Hongana Manyawa. Warna air sungai berubah, pepohonan ditebang, dan jalur perburuan yang telah digunakan turun-temurun tiba-tiba terhalang oleh pagar pembatas lahan konsesi.
Pola makan mereka pun berubah; jika dulu mereka mengandalkan umbi-umbian, sagu, dan pisang hutan, kini mereka membutuhkan beras—bahan pangan yang tidak bisa mereka tanam sendiri. Mereka yang dulunya hidup terisolasi dari dunia luar kini harus bergantung pada kiriman pasokan. Dengan tutur kata yang lugu dan bersahaja, Hidete—seorang anggota masyarakat O’Hongana Manyawa yang masih bermukim di tepi sungai jauh di dalam hutan—menyatakan bahwa ia tidak menganggap perusahaan tambang sebagai musuh.
“Saat mereka melihat kami, mereka meminta izin terlebih dahulu,” ujarnya. Ada kesan mengharukan dalam kata-kata itu—bukan karena ia tidak memahami situasinya, melainkan justru karena ia menerimanya dengan begitu lapang dada. Ia beradaptasi secara diam-diam dengan cara yang mungkin tidak akan bertahan selamanya, menjalani hidup di tengah hutan yang kian menyusut tanpa melontarkan protes keras.
Tim penyalur bantuan pun menyadari bahwa karung-karung beras dan pakaian baru bukanlah solusi jangka panjang. Nurhadi, Kepala Kantor Perwakilan BMH Maluku Utara, secara terbuka mengakui bahwa kunjungan mereka hanyalah sebuah tindakan kepedulian yang sederhana. “Saya berharap langkah kecil ini dapat menghadirkan sedikit kebahagiaan,” tuturnya. Berbeda dengan retorika program pemerintah yang kerap terdengar lebih megah daripada kenyataan yang sebenarnya, pernyataan lugas ini memancarkan kerendahan hati yang nyata.
Tidak ada liputan media nasional yang mengabadikan perjalanan panjang melintasi belantara Halmahera demi menyalurkan bantuan beras ini. Tidak ada pula konferensi pers yang mewah ataupun sorotan kamera televisi. Namun, bagi anak-anak suku Togutil yang wajahnya berseri-seri saat menerima pakaian baru, serta bagi para tetua yang menyambut tim dengan raut penuh rasa syukur, momen tersebut terasa nyata dan sangat bermakna.
Akan tetapi, ada satu pertanyaan besar yang sulit diabaikan: sampai kapan bantuan semacam ini akan mencukupi? Hutan terus menyusut, pengakuan hukum atas tanah adat masih belum juga terwujud, dan masyarakat setempat—yang telah menunggu selama dua hari di sekolah rimba—masih menggantungkan harapan kepada siapa pun yang bersedia masuk ke dalam hutan untuk menjangkau mereka. Mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah sekadar beras, melainkan kehadiran yang lebih konsisten serta keadilan yang nyata.