Ketika sejarah berubah, sepertinya selalu ada orang-orang yang berada di tempat yang tepat. Salah satunya adalah Budi Arie Setiadi. Saat Suharto digulingkan pada tahun 1998, ia hidup di jalanan. Ketika Joko Widodo terpilih sebagai presiden untuk pertama kalinya pada tahun 2014, ia bekerja di balik layar. Dan kini, di pertengahan tahun 2026, orang-orang kembali membicarakannya—bukan karena prestasinya, melainkan karena sebuah rekaman video yang bocor dan telah membuat banyak orang khawatir.
Video tersebut, yang menjadi viral di media sosial, memperlihatkan Budi Arie duduk di samping Joko Widodo dan membicarakan kemungkinan dilaksanakannya pemilu dini akibat apa yang ia sebut sebagai situasi sosial yang “tidak normal”. Sebenarnya, pernyataan tersebut disampaikan dalam forum internal Projo. Kemudian, Sekretaris Jenderal Projo Freddy Damanik meminta maaf atas beredarnya rekaman tersebut ke publik. Namun, berita itu sudah tersebar luas. Video tersebut telah menjadi viral, dan berbagai tanggapan pun bermunculan dari berbagai pihak.

Budi Arie menekankan bahwa komentarnya hanyalah analisis pribadinya, sekaligus mengakui bahwa pernyataannya telah memicu sejumlah spekulasi dan interpretasi. Sebagai penutup, ia menyerukan agar persatuan Indonesia tetap terjaga dan menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab serta menerima segala konsekuensi atas pernyataannya. Apakah hal ini terdengar familiar? Sebab, politisi vokal ini sebelumnya pernah berbicara dengan nada keras dan kemudian meminta maaf di hadapan para pendukungnya.
Sungguh menarik betapa banyak hal yang terungkap dari tanggapan berbagai kubu. Herlambang Prabowo, seorang politisi Gerindra di Dewan Kota Semarang, meminta agar Joko Widodo secara langsung menegur Budi Arie karena menurutnya pernyataan tersebut provokatif dan berpotensi memicu perdebatan publik yang memanas. Di sisi lain, PSI bersikeras bahwa Budi Arie bukanlah anggota partai mereka dan meminta agar namanya tidak disinggung dalam urusan PSI. Jarak yang diambil seperti ini selalu memiliki makna tersendiri dalam dunia politik Indonesia yang multifaset.
Untuk memahami Budi Arie sepenuhnya, kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas. Ia bukanlah politisi yang menonjol berkat jabatan warisan atau ikatan keluarga. Ia meniti karier melalui aktivisme kampus di Universitas Indonesia, menjadi redaktur majalah mahasiswa, ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), serta salah satu tokoh paling dikenal di kalangan demonstran. “Kapan kamu lulus?” tanya dekan berulang kali kepada pemuda itu. Fokusnya terlalu terbagi antara buku dan jalanan, itulah sebabnya ia membutuhkan waktu lebih lama daripada kebanyakan teman seangkatannya untuk lulus.
Ia mulai berkecimpung di dunia jurnalisme setelah lulus. Ia ikut mendirikan Kontan bersama sejumlah rekan pada tahun 1996 dan terkenal karena gaya penulisannya yang tajam, hingga pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama, secara langsung menegurnya atas liputannya yang kritis terhadap kalangan bisnis. Detail tersebut menarik: seorang jurnalis muda yang begitu vokal dalam mengkritik para pemegang kekuasaan pada akhirnya justru masuk ke dalam lingkaran dalam mereka. Tergantung bagaimana Anda menafsirkannya, hal itu bisa dianggap sebagai evolusi atau kompromi.
Pembentukan Projo pada tahun 2013, sebuah organisasi sukarelawan yang bermula sebagai gerakan spontan untuk mendukung Jokowi namun kemudian berkembang menjadi mesin kampanye yang sesungguhnya, merupakan titik balik paling signifikan dalam karier politiknya. Setelah ditunjuk sebagai Wakil Menteri Desa pada tahun 2019, Budi Arie dipromosikan menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika pada Juli 2023, menggantikan Johnny G. Plate yang terlibat dalam kasus korupsi. Dibutuhkan kombinasi antara loyalitas dan kecerdasan politik untuk menduduki dua jabatan menteri di dua pemerintahan yang berbeda.
Namun, peran menterinya pada akhirnya berakhir. Dalam upaya untuk tetap relevan di pemerintahan Prabowo-Gibran, Budi Arie kini tampil sebagai aktivis dan tokoh yang masih dekat dengan lingkaran dalam Jokowi sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Projo. Peran tersebut bukan tanpa tantangan. Menjaga identitasnya sebagai sosok yang berprinsip sambil mendukung satu presiden dan menyesuaikan diri dengan presiden berikutnya merupakan keseimbangan yang sulit dan rumit.
Menurut beberapa pihak, Budi Arie sering berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Mungkin ada benarnya. Namun, bisa juga ia sengaja melontarkan gagasan-gagasan tersebut untuk menguji reaksi publik dan melihat ke mana arah angin politik. Siti Zuhro, seorang peneliti BRIN, juga mencatat bahwa tidak mungkin menafsirkan pernyataan Budi Arie mengenai percepatan pemilu secara terpisah dari konteks politik yang lebih luas, termasuk dinamika di kalangan relawan Jokowi sendiri. Jelas bahwa sebuah rekaman singkat telah menimbulkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan, terlepas dari niat awalnya.
Banyak politisi Indonesia yang mampu menyeimbangkan antara idealisme tradisional dan pragmatisme modern tercermin dalam diri Budi Arie Setiadi. Ia bukanlah sosok yang tanpa prestasi atau rekam jejak. Tak diragukan lagi bahwa perannya di panggung ini belum berakhir, meskipun hal ini masih disambut baik dan kritik.
