Jarang sekali langit malam terasa tidak seperti biasanya. Salah satu contohnya adalah malam tanggal 3 Maret 2026. Jutaan pasang mata memandangi langit timur di seluruh Indonesia, menanti bulan purnama yang perlahan berubah menjadi merah tembaga. Bukan karena polusi, bukan pula karena kabut. Sebaliknya, itu adalah fenomena astronomi yang berulang dan telah membuat orang-orang berhenti sejenak serta merasa tak berarti sejak zaman kuno.
Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar sempurna, gerhana bulan total pun terjadi. Bumi berada di tengah. Permukaan Bulan sepenuhnya tertutupi oleh bayangannya, yang dikenal sebagai umbra. Secara teori, hal ini mudah dipahami. Namun, menjelaskan konsekuensinya jauh lebih sulit. Bulan, yang seharusnya gelap, tetap terlihat, bersinar dengan warna oranye kemerahan yang hangat—indah sekaligus mengganggu.

Atmosfer Bumi adalah sumber warna ini. Langit pada siang hari tampak biru karena panjang gelombang biru disaring saat sinar matahari melewati atmosfer kita. Cahaya merah dan oranye kemudian dipantulkan ke permukaan Bulan. Fenomena ini disebut “hamburan Rayleigh”, yaitu proses fisika yang sama yang menyebabkan matahari terbenam tampak membakar cakrawala. Oleh karena itu, ketika kita melihat bulan darah, pada dasarnya kita sedang menyaksikan matahari terbit dan terbenam di seluruh Bumi secara bersamaan—diproyeksikan ke permukaan Bulan dari jarak hampir 400.000 kilometer.
Malam itu terasa berbeda di Aceh. Bulan purnama, yang telah berwarna merah sejak pertama kali muncul di cakrawala timur, disambut di langit gelap setelah Maghrib pada hari ke-14 Ramadan. Masyarakat diingatkan oleh Alfirdaus Putra, Kepala Tim Falakiyah di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, bahwa gerhana tersebut sebenarnya dimulai pada fase penumbra pukul 15.44 WIB, jauh sebelum matahari terbenam. Namun, pengalaman tersebut baru dirasakan oleh mereka yang menyaksikannya secara langsung ketika bulan merah secara bertahap muncul dari balik pepohonan di tepi timur kota.
Menariknya, di beberapa komunitas, fenomena alam seperti ini masih sering dikaitkan dengan kesialan. Azhari, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, dengan tegas mengimbau masyarakat setempat agar tidak mengaitkan gerhana tersebut dengan bencana atau kematian. Kekhawatiran semacam ini bukanlah hal baru. Gerhana bulan telah menimbulkan ketakutan yang luar biasa di banyak masyarakat sepanjang sejarah manusia, mulai dari suku-suku di Amerika Selatan hingga Mesopotamia kuno. Mungkin saja ketika benda langit yang seharusnya bersinar putih tiba-tiba berubah menjadi merah, manusia memiliki rasa cemas yang sudah tertanam dalam diri.
Jawabannya tentu saja telah lama ditemukan dalam ilmu pengetahuan. Namun, emosi dan pengetahuan tidak selalu sejalan. Karena itu, peristiwa seperti malam gerhana di Aceh terasa penting dalam dua aspek: sebagai fenomena ilmiah dan sebagai kesempatan bagi semua orang untuk berdiri di bawah langit dan menyadari bahwa masih ada hal-hal di alam semesta yang membuat kita takjub.
Salah satu lokasi pengamatan resmi pada malam itu adalah Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang di Kompleks Pesantren Al Manar Cot Irie, Aceh Besar. Masyarakat umum diberi akses ke sejumlah teleskop. Masjid di kompleks pesantren tersebut juga menjadi tempat pelaksanaan salat khusuf, salat sunnah yang dilakukan saat gerhana. Perpaduan antara sajadah dan teleskop, sains dan spiritualitas, di bawah satu bulan tampak sangat tepat.
Gerhana bulan total terjadi antara pukul 18.04 dan 19.02 WIB, berlangsung selama 58 menit. Cakram bulan kemudian secara bertahap mulai kembali terang. Pada pukul 20.17 WIB, warna merah berubah menjadi oranye, oranye menjadi kuning pucat, dan akhirnya putih. Selesai sudah. Langit kembali ke keadaan semula. Namun, setelah menyaksikan itu, sulit rasanya untuk benar-benar kembali ke rutinitas malam kita. Ada sesuatu yang terus terasa—suatu kesadaran bahwa planet kita bergeser, berputar, mengorbit, dan terkadang melemparkan bayangannya ke bulan dengan cara yang mengubah langit malam menjadi sesuatu yang tak terduga.
Bulan selalu ada. Setiap malam. Namun, banyak orang hanya benar-benar melihatnya saat terjadi gerhana.
