Profil pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini cukup unik. Ia bukanlah seorang kiai yang dibesarkan di pesantren sejak usia dini. Ia juga bukan seorang politisi yang mahir dalam lobi terselubung. Gus Kikin, seorang pengusaha yang sebelumnya mengawasi kapal-kapal di Pelabuhan Cilegon sebelum diberi tanggung jawab memimpin Nahdlatul Ulama, adalah nama yang belakangan ini sering disebut dalam berbagai diskusi keagamaan di Indonesia.
Pada 31 Agustus 2026, hari terakhir Kongres NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur, Abdul Hakim Mahfudz secara resmi terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Nahdlatul Ulama untuk masa jabatan 2026–2031. Pemilihannya sudah menjadi peristiwa bersejarah: untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi tersebut, sembilan ulama senior dari Ahlul Halli Wal-Aqdi (AHWA) memilih ketua, bukan delegasi kongres. Sehari sebelumnya, ketika sebagian besar anggota Kongres memutuskan untuk menyerahkan hak suara mereka kepada para sesepuh, keputusan untuk mengadopsi sistem tidak langsung ini telah menimbulkan kontroversi.

Pada 17 Agustus 1958, Gus Kikin lahir di Pesantren Sunan Ampel di Jombang. Tanggal tersebut kebetulan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, sebuah fakta yang sering disinggung oleh orang-orang terdekatnya dengan makna yang mendalam. Ia adalah cicit KH dari pihak ibu. Ulama terkemuka Muhammad Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Terutama dalam budaya pesantren di Jawa Timur, di mana garis keturunan sangat dihargai, garis keturunan ini tentu bukanlah hal yang bisa diabaikan.
Namun, yang menarik bukanlah silsilah mulia pesantrennya. Yang menarik adalah bahwa pria ini dulunya mengambil jalur yang sama sekali berbeda. Ia bergabung dengan perusahaan pelayaran milik negara Djakarta Lloyd setelah menyelesaikan tiga tahun magang maritim dan lulus dari Akademi Maritim Jakarta. Pada usia tiga puluh tahun, ia sudah menjabat sebagai manajer cabang di Cilegon. Di sana, jauh dari hiruk-pikuk pesantren, ia memperoleh pengetahuan tentang topik-topik yang tidak tercakup dalam buku-buku kuning, seperti manajemen armada, negosiasi bisnis, dan tuntutan dunia bisnis yang sesungguhnya.
Tahun 1998 menjadi titik balik. Gus Kikin mendirikan lima usaha di Surabaya secara bersamaan di tengah krisis ekonomi Indonesia. Mengingat situasi saat itu, langkah tersebut tampak berani, bahkan mungkin sedikit nekat. Namun, usaha-usaha tersebut bertahan, berkembang, dan akhirnya tumbuh menjadi total 22 perusahaan di sektor transportasi, pelayaran, minyak dan gas, teknologi informasi, bahkan industri media televisi. Ada kemampuan membaca situasi yang melampaui ranah kebetulan.
Baru pada tahun 2016, ketika ia ditunjuk sebagai Wakil Pengurus Pesantren Tebuireng—salah satu pesantren tertua di Indonesia yang didirikan oleh leluhurnya sendiri—ia beralih ke gaya hidup pesantren. Gus Kikin mengambil alih kepemimpinan pesantren tersebut setelah wafatnya KH. Salahuddin Wahid, yang populer dikenal sebagai Gus Solah, pada tahun 2020. Melalui pertemuan keluarga yang dihadiri lebih dari 200 keturunan Hasyim Asy’ari, tampaknya Gus Solah sendiri telah lama merencanakan transisi ini.
Gus Kikin berbicara dengan tenang dan rendah hati dalam pidato pertamanya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia berharap NU dapat berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih kompak dan damai. Tidak ada janji-janji muluk yang terdengar seperti kampanye politik, dan kata-katanya pun tidak berapi-api. Ia tidak tampak seperti sosok yang gemar tampil di panggung retorika.
Tentu saja, ada beberapa keraguan terkait pemilihannya. Sejumlah pihak mengutarakan kekhawatiran mengenai mekanisme AHWA yang baru saja dibentuk karena mereka menganggap hal itu akan membuka peluang bagi pihak luar untuk ikut campur. Mengingat lingkungan politik Indonesia yang terus-menerus tidak stabil, belum jelas apakah kekhawatiran tersebut sepenuhnya beralasan atau sebagian besar hanya berupa kecurigaan yang wajar. Tidak diragukan lagi bahwa NU akan memiliki pemimpin baru saat memasuki abad keduanya. Pria ini, yang sebelumnya menangani manifes kapal di pelabuhan, kini harus memimpin 90 juta anggota organisasi terbesar di negeri ini.
Warisan masa lalu memang merupakan beban yang nyata. Namun, banyak pihak di NU mungkin memandang Gus Kikin sebagai sosok yang sulit dipengaruhi berkat pengalaman bisnisnya yang luas. Kemampuan berbicara di podium saja tidak cukup untuk organisasi sebesar NU. Organisasi ini membutuhkan seseorang yang mampu menangani, bertahan, dan mengambil keputusan di bawah tekanan. Setidaknya, pengalaman Gus Kikin selama lebih dari 20 tahun di dunia bisnis menunjukkan bahwa ia telah mencapai segalanya dan tidak pernah gagal.
