Salah satu aspek menarik dari perkembangan ekonomi Indonesia adalah bahwa, bertentangan dengan anggapan umum, perjalanannya sama sekali tidak mudah. Dahulu, negara ini sama sekali tidak memiliki uang. Indonesia pernah mengalami inflasi yang tak terbayangkan. Negara ini nyaris hancur. Namun, perlahan-lahan ia pulih. Fakta-fakta menarik tentang ekonomi Indonesia mencerminkan sebuah negara yang belajar berjalan sambil berlari, bukan sekadar angka-angka dalam laporan keuangan.
Perhatikanlah keadaan pada akhir tahun 1940-an. Kas negara Indonesia kosong, meskipun negara ini baru saja merdeka. Pajak cukai dan bea cukai tidak efektif. Tak satu pun dari tiga mata uang yang beredar saat itu—mata uang Jepang, Hindia Belanda, dan De Javasche Bank—yang benar-benar berdaulat. Pada 30 Oktober 1946, pemerintah menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI). Langkah ini melampaui kebijakan moneter. Tindakan tersebut berfungsi sebagai deklarasi kepada dunia bahwa Indonesia ada dan memiliki kedaulatan. Rakyat Indonesia menggunakan ORI, namun Belanda tidak mengakuinya.

Masalahnya adalah bahwa perekonomian tidak selalu membaik ketika suatu negara memiliki mata uang sendiri. Menjelang tahun 1960-an, sistem ekonomi terpusat Presiden Sukarno mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Solusi paling berisiko untuk mengatasi defisit anggaran yang sangat besar adalah mencetak uang sebanyak mungkin. Inflasi melonjak hingga sekitar 600 persen pada tahun 1965, sebagaimana yang sudah diperkirakan. Daya beli masyarakat hancur. Ekspor menurun. Untuk sementara waktu, pertumbuhan ekonomi bahkan menjadi negatif. Di pasar tradisional dan dapur rumah tangga, di mana harga kebutuhan pokok berubah hampir setiap hari, angka-angka negatif ini bukan sekadar angka, melainkan krisis yang sesungguhnya.
Pemerintahan Orde Baru mengambil langkah yang hampir berlawanan setelah peralihan kekuasaan. Pengurangan subsidi, perluasan akses investasi asing, dan restrukturisasi ekonomi semuanya berkontribusi pada stabilisasi. Pada tahun 1967, Undang-Undang Investasi Asing disahkan. Bappenas dibentuk sebagai lembaga perencanaan pembangunan nasional setahun kemudian. Perekonomian mulai bangkit kembali, perlahan namun pasti.
Momen tak terduga yang menyusul adalah lonjakan harga minyak dunia pada tahun 1973 dan 1979. Tiba-tiba, Indonesia, yang saat itu merupakan eksportir minyak bersih, memiliki cadangan devisa yang melimpah. Dana tersebut digunakan untuk inisiatif industrialisasi, proyek infrastruktur, dan revolusi hijau di bidang pertanian. Anehnya, Indonesia mencapai swasembada beras pada awal 1980-an. Dua puluh tahun setelah berjuang mengendalikan inflasi, negara ini kini mampu memenuhi kebutuhan pangan warganya sendiri.
Namun, booming minyak tidak berlangsung lama. Pada tahun 1982 dan 1986, harga minyak anjlok drastis di seluruh dunia. Pendapatan negara langsung terpengaruh. Pada titik ini, pemerintah terpaksa mempertimbangkan kembali ketergantungannya pada satu komoditas saja. Pada tahun 1983, reformasi perpajakan dilakukan setelah deregulasi perdagangan dan perbankan. Kebijakan-kebijakan ini memiliki nuansa pragmatisme yang kuat; kebijakan tersebut didorong oleh kebutuhan, bukan ideologi.
Setelah berhasil melewati krisis keuangan tahun 1998 yang menghancurkan nilai rupiah dan menggulingkan pemerintahan Orde Baru, Indonesia mulai memulihkan kepercayaan ekonominya seiring dimulainya dekade 2000-an. Sepanjang tahun 2010-an, demokrasi telah tertanam, reformasi kelembagaan sedang berlangsung, dan pertumbuhan ekonomi secara bertahap meningkat menjadi sekitar 5% per tahun. Angka tersebut memang tidak terlalu mencolok, tetapi stabil. Selain itu, stabilitas tersebut merupakan pencapaian yang signifikan dalam konteks sejarah ekonomi Indonesia.
Di tengah semua ini, ada hal yang patut direnungkan. Indonesia tidak memiliki lembaga yang mapan, mata uang yang diakui, maupun stabilitas politik saat memulai perjalanan ekonominya. Namun, setiap kali mengalami kemunduran, peraturan baru berusaha menghidupkannya kembali. Kadang berhasil, kadang tidak. Perkembangan ekonomi Indonesia memang tidak pernah mudah. Namun, justru di situlah letak integritasnya.
