Para pengendara motor di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terpaksa melintasi kabut tebal yang nyaris menghalangi pandangan mereka. Jarak pandang hanya satu atau dua meter. Itu adalah asap, bukan hujan lebat atau malam yang gelap gulita. Asap tersebut berasal dari kebakaran lahan dan hutan yang telah berkobar selama berhari-hari di Kalimantan dan tak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ini bukanlah adegan dari film bencana. Video-video yang viral pada 19 Agustus 2026 menunjukkan betapa nyata situasinya. Kegiatan sehari-hari telah berubah drastis bagi mereka yang tinggal di dekat daerah terdampak. Rasanya berisiko untuk keluar rumah. Di Kalimantan Barat, kasus infeksi saluran pernapasan meningkat di ruang gawat darurat rumah sakit. Sulit untuk menggambarkan perasaan gelisah yang menyelimuti tidak hanya hari ini, tetapi juga bulan-bulan mendatang.

Hampir 95.000 hektar lahan terbakar hanya pada bulan Juli, menurut pemerintah Indonesia. Lebih dari 200.000 hektar—sekitar tiga kali luas Jakarta—telah rusak sejak awal 2026. Ketika mempertimbangkan berapa banyak pohon, lahan gambut, dan satwa liar yang telah hilang, angka tersebut terasa abstrak. Selain itu, pejabat menyatakan bahwa musim kebakaran belum mencapai puncaknya.
Yudho Shekti Mustiko, seorang pejabat Kementerian Kehutanan yang saat ini bertugas di garis depan, menggambarkan situasi sulit yang dihadapi timnya dengan singkat namun menyentuh: tak satu pun dari 767 rekan kerjanya di Kalimantan yang bisa bersantai di kantor. Semua telah dikerahkan. “Tidak ada pejabat yang siaga di kantor,” jawabnya. Kalimat itu saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sistem ini sudah berada di ambang batas.
Per 20 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengidentifikasi 1.487 titik api di seluruh Kalimantan. Dengan 767 titik api, Kalimantan Tengah menyumbang lebih dari setengahnya, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik api. Angka-angka ini lebih dari sekadar statistik; di balik setiap titik api terdapat ekosistem yang mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk pulih, petani yang kehilangan ladang mereka, dan masyarakat yang menghirup udara tercemar.
Kisah Rudiansyah, seorang remaja berusia 15 tahun dari Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah, lah yang menarik perhatian saya—atau mungkin lebih tepatnya, yang menggerakkan hati saya. Ia memutuskan untuk memadamkan kebakaran bersama ayahnya dan relawan tetangga alih-alih tinggal di rumah. Ia bahkan berdandan seperti Superman. Di tengah berita-berita serius, kisah ini mungkin tampak lucu. Namun, ada kebenaran di balik cara masyarakat bereaksi terhadap keadaan darurat ketika sistem yang lebih besar terasa kewalahan.
Para ahli mencatat bahwa skala kebakaran tahun ini tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca. Menurut David Gaveau, pendiri situs pemantauan deforestasi Nusantara Atlas, kondisi saat ini merupakan hasil dari empat puluh tahun deforestasi, yang telah mengubah lanskap luas menjadi tumpukan bahan bakar kering. Segalanya diperparah oleh El Niño, namun penyebabnya lebih mendalam. Lahan gambut yang dulunya menyimpan air kini mengering dan menjadi mudah terbakar. Masalah ini telah mengendap cukup lama, dan tampaknya semua faktor tersebut bersatu pada tahun ini.
Kerugian akibat peristiwa El Niño tahun 2019 dan 2023 telah dilampaui oleh kebakaran tahun 2026. Tragedi tahun 2015, di mana jutaan hektar terbakar dan kabut asap memicu krisis regional yang melibatkan beberapa negara di Asia Tenggara, adalah satu-satunya peristiwa yang belum terlampaui. Apakah tahun 2026 akan mendekati skala itu? Sulit untuk dipastikan. Jelas bahwa Yudho dan timnya sudah bersiap menghadapi situasi yang lebih parah. “September dan Oktober akan sangat kering,” katanya. Ini bukanlah peringatan yang mudah untuk didengar.
Hujan baru akan turun sekitar bulan November. Kalimantan, dengan hutan-hutannya yang lebat dan masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan alam selama bergenerasi-generasi, harus bertahan hingga saat itu. Ada rasa lelah yang bercampur dengan ketangguhan sejati. Dan pertanyaan yang belum terjawab, yang mungkin tidak akan terpecahkan musim ini, adalah apakah kita telah belajar cukup dari kebakaran-kebakaran di masa lalu atau apakah kita akan menghitung kerugian yang sama pada tahun berikutnya.
