Fakta bahwa Bank Mandiri, lembaga keuangan terbesar di Indonesia, didirikan karena rasa takut alih-alih kemakmuran, menjadikan sejarahnya menarik. Indonesia sedang mengalami krisis keuangan yang parah pada tahun 1998. Empat bank milik negara terancam bangkrut: Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia. Tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah. Menggabungkan keempat bank tersebut tampaknya bukanlah sebuah rencana, melainkan sebuah risiko.
Nama “Mandiri” dipilih oleh Presiden B.J. Habibie saat itu; kata ini dalam bahasa Indonesia berarti “berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pada siapa pun.” Sebuah bank yang didirikan karena keputusasaan dan diberi nama yang melambangkan kemandirian merupakan ironi yang menyentuh. Harapan tersebut ternyata beralasan, entah itu karena optimisme atau keberanian.

Proses penggabungan yang sebenarnya berjalan sulit. Pemerintah menutup ratusan cabang dan memangkas tenaga kerjanya dari lebih dari 26.000 menjadi sekitar 17.000 selama periode ini. Bayangkan skala reorganisasi tersebut: cabang-cabang ditutup, ribuan orang kehilangan pekerjaan, dan sistem operasional keempat bank tersebut harus digabungkan. Keempat bank tersebut mulai beroperasi sebagai satu kesatuan organisasi pada 31 Juli 1999. Saat itu, banyak yang meragukan apakah langkah ini akan berhasil.
Dalam hal aset, pinjaman, dan simpanan nasabah, Bank Mandiri tetap menjadi bank terbesar di Indonesia dua puluh tujuh tahun kemudian. Per tahun 2025, total asetnya mencapai Rp 2.829 triliun, angka yang sulit dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Bank ini memiliki lebih dari 2.300 cabang yang tersebar di tiga zona waktu di Indonesia, mengelola lebih dari 38.000 karyawan, dan terdaftar dalam daftar Forbes Global 2000. Ini bukan lagi kisah perjuangan bertahan hidup. Ini adalah kisah sebuah lembaga yang benar-benar sukses.
Sungguh menarik melihat bagaimana Bank Mandiri mempertahankan akar tradisinya sambil beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Salah satu layanan perbankan online terpopuler di Indonesia saat ini adalah aplikasi Livin’ by Mandiri. Kopra by Mandiri menyediakan solusi digital untuk kebutuhan perbankan kelas bisnis. Dari antrean di loket teller hingga beberapa ketukan di layar ponsel, keduanya menunjukkan perubahan signifikan dalam cara masyarakat Indonesia berinteraksi dengan layanan keuangan.
Namun, wajar jika kita bertanya-tanya apakah transformasi digital ini akan cukup untuk menahan tekanan dari fintech dan bank digital yang semakin agresif. Kaum muda yang lebih nyaman membuka rekening melalui aplikasi daripada pergi ke cabang tertarik pada nama-nama baru di sektor keuangan, yang berkembang pesat. Tampaknya Bank Mandiri menyadari hal ini. Investasi pada infrastruktur digital masih terus dilakukan. Namun, masih harus dilihat dalam beberapa tahun ke depan seberapa dalam transformasi digital ini benar-benar mengakar di kalangan pengguna muda.
Ada aspek lain dari Bank Mandiri yang melampaui sisi bisnis dan jarang disorot. Komitmen organisasi ini terhadap keberlanjutan lingkungan, termasuk target mencapai emisi nol bersih dalam operasinya pada tahun 2030, menunjukkan bahwa bahkan bank-bank besar kini tidak dapat mengabaikan tuntutan perubahan iklim. Aspek lain dari organisasi ini yang tidak selalu terlihat dalam laporan keuangannya tercermin melalui program Mandiri Peduli, yang baru-baru ini memberikan bantuan kepada korban gempa di Nusa Tenggara Timur.
Kemampuan Bank Mandiri untuk menyeimbangkan sejarah panjangnya dengan kebutuhan dunia modern yang terus berubah mungkin menjadi kunci yang membuatnya tetap relevan setelah hampir tiga puluh tahun. Tentu saja, bank ini tidak sempurna. Tidak ada organisasi sebesar ini yang sempurna. Namun, sebuah bank yang berhasil bangkit dari krisis dan kini menjadi salah satu pilar utama perekonomian Indonesia patut diapresiasi.
