“Di mana tepatnya Anda memeriksa desil Anda?” adalah pertanyaan yang terus muncul dalam percakapan, mulai dari grup WhatsApp keluarga di perkotaan hingga warung kopi di pedesaan. Kedengarannya mudah. Namun, jawabannya dapat memiliki implikasi signifikan bagi jutaan keluarga Indonesia yang berusaha memastikan apakah mereka memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.
Dalam konteks ini, desil adalah istilah statistik yang tidak terbatas pada buku teks akademis. Posisi sebuah keluarga dalam skala kesejahteraan nasional ditentukan oleh klasifikasi praktis ini. Semua keluarga di Indonesia dikategorikan oleh pemerintah ke dalam sepuluh kelompok, mulai dari desil 1—yang mencakup 10% keluarga dengan kondisi keuangan terburuk—hingga desil 10, yang mewakili kelompok dengan pendapatan tertinggi. Program bantuan sosial seperti Program Bantuan Pangan dan Non-Pangan (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) cenderung lebih banyak menyasar keluarga dengan angka desil yang lebih rendah.

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Sosial bekerja sama dalam mengelola DTSEN, atau Data Sosial dan Ekonomi Tunggal Nasional. Jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, kondisi perumahan, kapasitas listrik yang terpasang, dan kepemilikan aset hanyalah beberapa dari banyak variabel yang dihitung. Tidak ada yang dikecualikan dari perhitungan tersebut. Karena hal ini, posisi desil seseorang seringkali sangat berbeda dengan persepsi mereka sendiri mengenai kondisi mereka.
Ada dua saluran resmi untuk mengetahui di mana Anda dapat mengecek desil Anda. Pertama, melalui situs web Kementerian Sosial di cekbansos.kemensos.go.id dan situs web BPS di dtsen-form.bps.go.id. Tanpa perlu pergi ke kantor desa atau mengantri di kantor dinas sosial, keduanya dapat diakses menggunakan ponsel biasa. Siapkan saja tanggal lahir dan Nomor Identitas Nasional (NIK) 16 digit sesuai dengan dokumen identitas Anda.
Situs web BPS memudahkan proses ini. Masukkan NIK Anda setelah membuka halaman, pilih menu “Lainnya”, lalu masukkan kode verifikasi yang muncul di layar. Sistem akan meminta Anda memilih antara memperbarui data atau memverifikasi dekile jika NIK Anda terdaftar dalam basis data DTSEN. Klik tombol “Periksa Data” setelah memilih “Periksa Desil”, memasukkan tanggal lahir, dan memasukkan kode verifikasi sekali lagi. Tak lama kemudian, hasilnya akan muncul. Saat membacanya, sebagian orang langsung merasa lega, sementara yang lain terkejut karena angka-angka tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
Penting untuk disadari bahwa posisi desil seseorang tidak menjamin bahwa ia akan menerima bantuan sosial. Sebelum menentukan penerima, pemerintah tetap melakukan proses validasi dan verifikasi sendiri. Hal ini berarti seseorang yang berada di desil 2 belum tentu langsung terdaftar sebagai penerima PKH. Di sisi lain, desil beberapa orang bisa berubah meskipun mereka sudah menerima bantuan sosial. Banyak praktisi di bidang ini masih menganggap hal ini cukup membingungkan.
Sekali lagi, desil bersifat dinamis. Data harus menyesuaikan dengan perubahan kondisi sosial ekonomi suatu keluarga. Ada cara untuk mengajukan permohonan pembaruan jika seseorang merasa data yang tercatat tidak secara akurat mencerminkan kondisinya, misalnya jika penghasilannya jauh lebih rendah daripada yang tercatat atau jika tempat tinggalnya tidak sekokoh yang tercantum. Kantor Dinas Sosial setempat, kantor desa atau kecamatan, atau aplikasi Cek Bansos di Google Play Store dapat digunakan untuk hal ini.
Namun, BPS mencatat bahwa status penerima bantuan sosial tidak langsung berubah hanya dengan memperbarui data di DTSEN. Kementerian atau lembaga yang berwenang memiliki keputusan akhir. Bagi warga yang telah menunggu, waktu antara pembaruan data dan pengambilan keputusan terkadang terasa lama.
Menarik untuk dicatat bahwa belakangan ini terjadi peningkatan kesadaran masyarakat yang signifikan mengenai desil-desil ini. Hal ini merupakan hasil dari informasi dari mulut ke mulut—tetangga yang berhasil memeriksa, kerabat yang menemukan datanya tidak akurat—bukan karena kampanye pemerintah yang mendadak dan besar-besaran. Ketika data kesejahteraan sosial tersedia bagi masyarakat, alih-alih hanya digunakan untuk mengambil keputusan bagi orang lain di balik meja, tampaknya ada sesuatu yang mulai berubah.
