Angka 1978 memiliki keunikan tersendiri. Angka ini lebih dari sekadar tahun. Jalan tol pertama di Indonesia adalah Jagorawi, yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi, dan hingga kini masih dipadati lalu lintas setiap hari. Aspal jalan ini telah dilalui puluhan juta kali. Tak terhitung berapa banyak kisah yang telah tercipta di sana.
Proses perencanaan jalan tol ini tidaklah mulus. Sekitar tahun 1973, pemerintah Indonesia mulai merencanakan jalan tol yang akan menghubungkan ibu kota dengan Bogor, yang menjadi cikal bakal konsep awalnya. Status bebas tol jalan tersebut masih belum pasti pada saat itu. Baru ketika pembangunan hampir selesai dan pemerintah mulai memikirkan keberlanjutan operasional tanpa terus bergantung pada anggaran negara, barulah mereka memutuskan untuk menjadikannya jalan tol. Mungkin tidak banyak orang yang memandangnya demikian pada saat itu, tetapi ada logika bisnis yang berperan di baliknya.

Sumber pendanaan pembangunan jalan tol ini cukup menarik. Amerika Serikat menyediakan dana sebesar $22,8 juta, atau sekitar 70% dari total, melalui USAID. Indonesia sendiri menyumbang sisanya sebesar $10,3 juta. Catatan sejarah menunjukkan bahwa dorongan dari pihak Amerika terutama didorong oleh Kaiser Cement, seorang investor swasta Amerika yang berencana membangun pabrik besar di Cibinong. Dalam situasi tersebut, jalan tol ini lebih dari sekadar infrastruktur publik. Di balik layar, terdapat kepentingan ekonomi yang lebih besar yang berperan. Hal ini menjadi pengingat bahwa inisiatif berskala besar jarang sekali merupakan hasil dari niat baik.
Di bawah arahan konsultan Amerika, Hyundai Construction Co. dari Korea Selatan ditugaskan untuk melaksanakan pembangunan secara langsung. Pilihan ini menimbulkan kontroversi: mengapa mempekerjakan pekerja asing? Sebagai tanggapan, Presiden Suharto menekankan bahwa sejumlah besar pekerja Indonesia masih aktif terlibat dalam industri tersebut. Suharto sendiri yang memotong pita pada peresmian tanggal 9 Maret 1978, dan nama Jasa Marga pun dikenal publik sebagai operator jalan tol pertama di negara ini. Namun, sulit untuk menentukan sejauh mana keterlibatan ini secara pasti.
Dari Cawang di Jakarta Timur hingga Ciawi di ujung selatan, Jalan Tol Jagorawi membentang sepanjang 59 kilometer. Gerbang tol, persimpangan, dan simpang susun menghubungkan kawasan-kawasan yang sebelumnya terisolasi di sepanjang rute ini, termasuk Bogor sendiri, Cibubur, Cimanggis, dan Citeureup. Bayangkan saja kondisi di kawasan-kawasan tersebut sebelum pembangunan jalan tol ini. Perjalanan dari Jakarta ke Bogor mungkin memakan waktu jauh lebih lama akibat kemacetan kendaraan lokal di jalan-jalan yang sempit.
Jalan Tol Jagorawi telah mencapai titik impas, sebuah fakta yang jarang dibahas. Hal ini menandakan bahwa jalan tol tersebut telah mengembalikan biaya investasi awalnya. Akibatnya, jika dibandingkan dengan jalan tol lain di Indonesia, tarif tolnya masih termasuk yang terendah per kilometer. Usia jalan tol ini dan lalu lintas padat yang telah ditanggungnya selama hampir 50 tahun menjadi penyebabnya; ini bukanlah kebetulan. Jalan tol tertua juga merupakan yang paling terjangkau, yang mungkin merupakan ironi kecil.
PT Jasa Marga menerbitkan sekuritas yang didukung oleh pendapatan tol Jagorawi pada tahun 2017, sebuah langkah yang cukup tidak biasa. Hal ini membuktikan bahwa ruas jalan ini bukan hanya aset berwujud, tetapi juga aset keuangan yang andal yang dapat dijadikan landasan untuk produk investasi. Ada keyakinan terhadap arus lalu lintas yang konsisten di sana; lagipula, siapa yang meragukan bahwa masyarakat Indonesia akan terus bepergian antara Jakarta dan Bogor?
Jagorawi dilintasi oleh ribuan mobil setiap hari. Ada truk kontainer yang melambat di tanjakan, keluarga yang kembali ke Bogor setelah menghabiskan akhir pekan di Jakarta, dan bus antarkota yang sudah hafal setiap tikungan jalan. Jalan tol ini tidak pernah sepi. Mungkin Jagorawi terasa berbeda karena ia adalah yang pertama, bukan karena ia yang terbaru atau terpanjang. Dan ia terus beroperasi hingga lima puluh tahun kemudian.
