Sebuah istilah tiba-tiba menjadi sangat populer dalam beberapa bulan terakhir. Di kedai kopi pinggir jalan, di kolom komentar media sosial, dan di grup WhatsApp keluarga. Istilah itu adalah “desil”. Banyak orang penasaran dengan desil keluarga mereka. Apakah data pemerintah menggambarkan situasi tersebut secara akurat? Yang terpenting, bagaimana cara memastikannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat wajar. Sebab, desil lebih dari sekadar angka. Baik sebuah keluarga dikategorikan sebagai sangat miskin, kelas menengah, atau bahkan termasuk yang paling kaya, hal ini menunjukkan bagaimana pemerintah memandang status keuangan mereka. Selain itu, data desil ini merupakan salah satu faktor fundamental yang digunakan untuk menentukan siapa yang berhak menerima program bantuan sosial seperti Beasiswa Kuliah KIP (Kuliah) untuk anak-anak mereka, Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Berdasarkan kondisi sosial ekonomi yang tercantum dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), sistem desil membagi seluruh keluarga di Indonesia menjadi sepuluh kelompok. 10% keluarga dengan kesejahteraan terendah, yang juga dikenal sebagai kelompok miskin ekstrem, diwakili oleh desil 1. Kelompok dengan kondisi ekonomi terbaik diwakili oleh desil 10. Tingkat kesejahteraan yang tercatat semakin menurun seiring dengan berkurangnya angka desil. Pekerjaan, pendidikan, kondisi tempat tinggal, penggunaan listrik, dan kepemilikan aset hanyalah beberapa dari banyak variabel yang digunakan.
Desil bersifat dinamis, yang menarik namun sering diabaikan. Hal ini berarti angka tersebut dapat berubah. Desil dapat berubah jika kondisi keuangan suatu keluarga membaik atau memburuk, atau jika data yang tercatat ternyata salah. Hal ini menjadi pengingat bahwa sangat penting untuk melakukan pemeriksaan rutin guna memastikan informasi dalam sistem pemerintah secara akurat mencerminkan situasi serta untuk mengetahui posisi Anda.
Ada dua cara resmi untuk memeriksa desil. Yang pertama adalah melalui situs web dtsen-form.bps.go.id milik Badan Pusat Statistik (BPS). Prosesnya sangat mudah: buka situs web tersebut, pilih menu “Lainnya”, masukkan Nomor Identitas Nasional (NIK) sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Anda, isi kode verifikasi atau captcha yang muncul di layar, lalu klik tombol “Periksa Data”. Sistem akan menampilkan opsi untuk memperbarui data atau memeriksa desil jika NIK Anda terdaftar dalam basis data DTSEN. Klik “Periksa Data” sekali lagi setelah memilih “Periksa Desil”, masukkan tanggal lahir Anda sesuai data KTP, dan masukkan kode verifikasi sekali lagi.
Situs web Kementerian Sosial, cekbansos.kemensos.go.id, merupakan opsi kedua. Meskipun sedikit berbeda, prosedurnya tetap sederhana. Klik “Cari” setelah membuka situs web, masukkan Nomor Identitas Nasional (NIK) dan informasi wilayah dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) Anda, serta masukkan kode verifikasi yang muncul. Selain melalui situs web, Anda dapat memeriksanya dengan mengunduh aplikasi “Cek Bansos” ke ponsel pintar Anda. Setelah berhasil masuk ke akun terdaftar Anda, pilih menu “Cek Bansos”, masukkan NIK Anda, lalu klik “Cari Data”.
Ini adalah konsep penting yang perlu dipahami. Menerima bantuan sosial bukanlah hal yang pasti hanya karena Anda termasuk dalam desil 1 hingga 4. Kementerian atau lembaga terkait tetap melakukan verifikasi dan validasi terhadap penerima bantuan sosial. Posisi desil bukanlah jaminan; itu hanyalah salah satu faktor. Hal ini penting untuk mencegah kekecewaan ketika Anda berada di desil rendah tetapi belum menerima bantuan, atau sebaliknya, terkejut ketika Anda berada di desil tinggi tetapi tetap terdaftar sebagai penerima.
Bagaimana jika data tersebut tampak tidak akurat? Pemerintah menyediakan cara untuk mengatasinya. Melalui Dinas Sosial setempat dan kantor desa atau kecamatannya, masyarakat dapat mengajukan permohonan pembaruan data. Aplikasi Cek Bansos dari Kementerian Sosial merupakan cara lain untuk melakukan pembaruan. Penting untuk diingat bahwa status penerima bantuan sosial tidak selalu berubah saat data diperbarui. Kementerian dan lembaga yang berwenang tetap memegang kewenangan untuk menentukan hal tersebut.
Ketika seseorang pertama kali melihat angka desil, wajar jika mereka merasa cemas. Apakah angka-angka tersebut adil? Apakah situasi yang sebenarnya tercermin dengan akurat dalam data yang digunakan? Pertanyaan-pertanyaan ini masuk akal. Jutaan keluarga Indonesia dilayani oleh DTSEN, sebuah sistem besar yang kemungkinan besar memiliki kekurangan. Namun, hal pertama yang dapat dilakukan siapa pun adalah memeriksanya sendiri. Jika terdapat kesalahan, kesalahan tersebut harus segera diperbaiki melalui saluran resmi.
Satu tanggal lahir, satu Nomor Identitas Nasional (NIK), dan beberapa menit waktu luang. Itulah yang Anda butuhkan untuk mulai mengetahui posisi keluarga Anda dalam sistem data sosial pemerintah Indonesia. Selama Anda tahu caranya, hal ini tidaklah sulit.
